PELAIHARI — Upaya Gerakan Ekonomi Kreatif (Gekrafs) Kabupaten Tanah Laut (Tala) dalam menghadirkan pemutaran film di Balairung Tuntung Pandang pada 10–12 April 2026 mendapat perhatian publik. Di tengah berbagai pandangan yang berkembang, kegiatan ini juga dinilai sebagai langkah strategis dalam membuka ruang baru bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah.
Pemutaran film, termasuk genre horor yang memiliki basis penonton luas, dipandang sebagai pintu masuk untuk membangun ekosistem industri perfilman di Tanah Laut. Kehadiran masyarakat dalam jumlah signifikan selama kegiatan berlangsung menunjukkan tingginya minat terhadap hiburan berbasis audiovisual.
Sejumlah pelaku kreatif menilai, langkah ini merupakan bentuk adaptasi terhadap tren industri kreatif nasional yang kini semakin berkembang pesat. Film, sebagai salah satu subsektor unggulan, memiliki potensi besar dalam menciptakan peluang usaha baru, mulai dari event organizer (EO), penyedia teknis, hingga pelaku UMKM pendukung kegiatan.
“Ini bukan sekadar soal genre, tetapi bagaimana membuka pasar dan membangun kebiasaan masyarakat untuk menikmati karya kreatif di daerah sendiri,” ujar salah satu pelaku ekonomi kreatif Tala.
Penggunaan gedung pemerintah sebagai lokasi kegiatan juga dinilai sebagai bentuk optimalisasi aset daerah agar lebih produktif dan memberi dampak ekonomi. Dengan pengelolaan yang tepat, fasilitas tersebut dapat menjadi pusat aktivitas kreatif yang inklusif bagi berbagai kalangan.
Selain itu, kegiatan pemutaran film dinilai mampu memicu lahirnya inisiatif baru dari masyarakat. Mulai dari komunitas film, sineas muda, hingga pelaku usaha yang melihat peluang dalam industri hiburan lokal.
Momentum ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah daerah, komunitas kreatif, dan sektor swasta. Dengan sinergi yang kuat, Tanah Laut berpotensi menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi kreatif di Kalimantan Selatan.
Tak hanya itu, Gekrafs Tala juga dinilai memiliki peluang besar untuk menjadikan kegiatan serupa sebagai wadah kurasi karya. Ke depan, pemutaran film dapat dikembangkan dengan menghadirkan beragam genre, termasuk film edukatif, budaya, hingga karya sineas lokal Tanah Laut.
Film lokal seperti When Love Calls from the Bottom of Borneo yang mengangkat potensi wisata daerah, serta karya-karya bertema kearifan lokal, dapat menjadi bagian dari agenda pemutaran berikutnya. Dengan demikian, aspek hiburan dan edukasi dapat berjalan beriringan.
Di tingkat regional, film-film seperti Perang Banjar dan Jendela Seribu Sungai juga dapat menjadi inspirasi dalam membangun identitas sinema Kalimantan Selatan yang kuat dan berkarakter.
Lebih jauh, kegiatan ini dapat menjadi pemantik bagi lahirnya event-event kreatif lainnya, seperti festival film daerah, workshop perfilman, hingga kompetisi film pendek yang melibatkan generasi muda Tala.
Para pemerhati ekonomi kreatif berharap, langkah awal yang dilakukan Gekrafs Tala ini dapat terus dikembangkan dengan pendekatan yang berimbang. Tidak hanya menghadirkan hiburan yang diminati pasar, tetapi juga mendorong tumbuhnya karya-karya lokal yang berkualitas dan berdaya saing.
Dengan pengelolaan yang tepat, pemutaran film bukan hanya menjadi ajang hiburan semata, tetapi juga motor penggerak ekonomi, ruang ekspresi kreatif, serta sarana membangun identitas budaya daerah.
“Ini peluang besar. Tinggal bagaimana kita mengelola agar berdampak luas bagi masyarakat,” ujar seorang pegiat kreatif.
Ke depan, Tanah Laut diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga produsen karya kreatif yang mampu bersaing di tingkat nasional, bahkan internasional.

Komentar