Berita
Beranda / Berita / Kuyang, Dari Mitologi Menjadi Produk Ekonomi Kreatif

Kuyang, Dari Mitologi Menjadi Produk Ekonomi Kreatif

BANJARMASIN — Sosok mitologi mistis Kuyang yang selama ini hidup dalam cerita turun-temurun masyarakat Kalimantan kini menjelma menjadi kekuatan baru dalam industri ekonomi kreatif. Melalui tangan kreatif sineas Banua, kisah yang dulunya hanya beredar sebagai cerita lisan kini berhasil diangkat ke layar lebar dan menarik perhatian publik secara luas.

Film Kuyank: Saranjana The Prequel karya Johansyah Jumberan menjadi bukti bahwa kearifan lokal memiliki daya jual tinggi ketika dikemas secara modern. Film ini berhasil menembus sekitar 1,2 juta penonton, sebuah capaian yang menegaskan besarnya minat masyarakat terhadap cerita berbasis budaya lokal, khususnya dalam genre horor.

Kesuksesan tersebut tidak berhenti di layar bioskop nasional. Film ini kembali diputar di berbagai kabupaten hingga kecamatan melalui konsep “bioskop Banua” atau bioskop rakyat, sebuah pendekatan distribusi yang mendekatkan karya film kepada masyarakat secara lebih luas dan inklusif.

Menariknya, film ini tidak hanya menghadirkan unsur horor, tetapi juga menyisipkan berbagai elemen budaya Banjar yang kental. Sejumlah tradisi seperti Batasmiyah, Panganten Banjar, Bausung Panganten, hingga prosesi adat seperti baatar jujuran, piduduk, dan karasmin turut ditampilkan sebagai bagian dari narasi. Selain itu, kesenian tradisional seperti madihin juga hadir memperkaya cerita, menjadikan film ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga media edukasi budaya.

Kehadiran unsur-unsur budaya tersebut memperkuat identitas lokal dalam film sekaligus menjadi strategi efektif untuk memperkenalkan tradisi Banjar kepada generasi muda maupun penonton di luar daerah.

Harga Biji Kopi Naik, Pelaku Kopi Bertahan Tanpa Naikkan Harga

Fenomena ini menunjukkan bahwa Kuyang tidak lagi sekadar mitos, melainkan telah bertransformasi menjadi produk ekonomi kreatif yang nyata. Perputaran film di daerah turut menggerakkan berbagai sektor pendukung, mulai dari pelaku usaha kecil, penyedia konsumsi, hingga komunitas lokal yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan.

Para pelaku ekonomi kreatif menilai keberhasilan ini menciptakan efek domino yang signifikan. Tidak hanya membuka peluang usaha baru, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekosistem kreatif di daerah, termasuk lahirnya sineas-sineas muda yang terinspirasi untuk mengangkat cerita lokal lainnya.

Selain itu, keberhasilan film ini turut memperkuat identitas budaya daerah di tingkat nasional. Cerita tentang Kuyang yang khas Kalimantan menjadi daya tarik tersendiri, terlebih diperkaya dengan nilai-nilai budaya Banjar yang autentik.

Model distribusi melalui bioskop rakyat juga dinilai sebagai inovasi penting dalam industri film daerah. Dengan menjangkau hingga tingkat kecamatan, akses masyarakat terhadap karya film menjadi lebih merata, sekaligus menciptakan ruang interaksi sosial dan hiburan yang memberikan dampak ekonomi.

Ke depan, Kuyang dipandang sebagai simbol bahwa cerita lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi industri kreatif yang berkelanjutan. Dengan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga sektor swasta, karya berbasis kearifan lokal diyakini mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah.

Bupati Rahmat dan Wamen ATR/BPN Perkuat Sinergi Penanganan Persoalan Pertanahan di Tala

“Ini bukan hanya soal film, tetapi bagaimana cerita daerah bisa hidup, berkembang, dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” ujar salah satu pelaku kreatif.

Melalui keberhasilan ini, Banua menunjukkan bahwa kekuatan budaya lokal, jika dikelola dengan baik, mampu menembus pasar yang lebih luas dan menciptakan nilai ekonomi yang signifikan. Kuyang pun kini tak hanya menjadi legenda, tetapi juga menjelma sebagai ikon baru ekonomi kreatif Kalimantan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement